warna merah pada selai stroberi

Hi everyone, kita belajar bareng lagi yuk.

Topik kali ini adalah tentang selai. Pasti udah ga asing lagi dong dengan selai. Kalian suka selai apa? kacang? coklat? stroberi?? Tapi kali ini yang kita bahas tentang selai stroberi dulu yaa, soalnya aku tadi makan roti pakai selai stroberi hehehe

Okay, let's go

Selai merupakan produk olahan buah yang diproses dengan pemasakan dan dicampurkan gula hingga mencapai konsistensi tertentu sehingga menghasilkan rasa manis dan aroma khas yang biasanya disajikan sebagai isian pada roti, campuran pada minuman dan jika diencerkan sedikit dapat digunakan menjadi saus atau glaze lohh..

Selai juga memiliki daya simpan yang relatif lama. Hal ini dikarenakan kadar air pada selai harus rendah yaitu dibawah 35% (standar SNI). Jika kadar air pada selai tinggi maka akan mempengaruhi masa penyimpanan dan tekstur selai. Selai juga disukai secara visual yaitu dari warna yang mempengaruhi persepsi konsumen terhadap rasa, kualitas dan tingkat penerimaan konsumen.

Tapi kalian pernah gak lihat selai stroberi yang dijual tingkat warnanya pasti berbeda-beda antar merek selai. Nah ini yang akan kita bahas.

Dalam skala industri pangan, selai stroberi yang identik dengan warna merah diperoleh melalui penambahan pewarna sintesis. Tujuannya agar selama penyimpanan warna selai cerah dan stabil. Namun penggunaan pewarna sintesis secara berlebihan dan jangka panjang tidak baik untuk kesehatan seperti kerusakan organ tertentu, gangguan pencernaan, alergi dan lainnya. Oleh karena itu diperlukan pewarna alami sebagai alternatif yang dampaknya positif bagi kesehatan tubuh, lingkungan, dan aman digunakan dalam jangka panjang. 

Bahan alami tersebut adalah kulit buah naga (Hylocereus sp.). Kulit buah naga mengandung antosianin yang menghasilkan warna merah hingga ungu. Antosianin adalah golongan flavonoid yang larut dalam air dan memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Selain itu, antosianin juga melindungi sel tubuh dari radikal bebas, menurunkan  risiko  penyakit  degeneratif  seperti kanker, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular dan memperkuat sistem imun. Selain memberikan manfaat kesehatan dan alternatif pewarna sintesis, penggunaan kulit buah naga juga solusi untuk mengurangi limbah pertanian. Konsep ini sejalan dengan prinsip zero waste dan ekonomi sirkular,

Pembuatan selai stroberi yaitu stroberi segar, kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), gula pasir, air, asam sitrat sebagai pengatur  keasaman, dan  pektin  sebagai  pengental. Diawali dengan proses ekstraksi kulit buah naga. Kulit buah naga yang telah  dipisahkan  dari  daging  buahnya  dicuci  bersih  dengan  air  mengalir,  dipotong  kecil-kecil, kemudian  ditimbang  sesuai  kebutuhan.  Potongan  kulit  buah  naga  diblender  bersama  pelarut  air dengan  perbandingan  1:2 (b/v)  hingga  halus,  lalu  disaring  menggunakan  kain  saring  untuk memisahkan  ampas.  Filtrat  hasil  saringan  inilah  yang  digunakan  sebagai  larutan  pewarna  alami kaya antosianin (Barqin dan Wicaksono, 2025).

Proses  pembuatan  selai  stroberi  dilakukan  dengan  mencuci  stroberi  segar,  membuang kelopak, dan memotongnya menjadi ukuran kecil. Stroberi kemudian dimasak bersama gula dengan perbandingan 1:1 (b/b) dan pektin sambil diaduk merata. Ketika suhu campuran mencapai ±70°C, ekstrak kulit buah naga ditambahkan. Pemanasan dilanjutkan hingga selai mencapai total padatan terlarut (TSS) sekitar 65°Brix, lalu selai dimasukkan ke dalam botol kaca steril dan ditutup rapat (Barqin dan Wicaksono, 2025).

Hasilnya diperoleh penggunaan ekstrak kulit buah naga pada selai stoberi mempengaruhi warna pada selai secara nyata dan tingkat penerimaan konsumen tinggi. Penambahan ekstrak kulit buah naga sebanyak 10% adalah perlakuan terbaik yang menunjukkan hasil warna merah cerah, kadar antosianin tinggi (sekitar  32–35mg/100g), sifat fisik-kimia yang memenuhi standar SNI, serta skor penerimaan tertinggi dari panelis. Secara fisik-kimia, kadar air semua perlakuan berada pada kisaran 28–30%, yang memenuhi standar SNI 3746:2008 untuk selai buah (maksimal 35%). Stabilitas kadar air menunjukkan bahwa penambahan ekstrak tidak mengubah sifat ikat air dan proses pengentalan selama pemasakan. Nilai pH (3,4–3,6) juga konsisten dengan rentang ideal untuk selai buah, yang penting untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen  dan mempertahankan kestabilan antosianin (Herbach et al., 2006).

Sumber:

Barqin, G.A. dan Wicaksono,Y. 2025. Pemanfaatan kulit buah naga sebagai pewarna alami pada produk selai stroberi. Jurnal EDUSCOTECH. Vol 6 (1).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sinar matahari untuk hidup

3726 mdpl oleh Nurwina Sari